Nasional- Menjadi lawan anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabumi di Pilkada Solo bukan perkara mudah. Bermodal semangat saja tidak cukup. Bahkan tuduhan sebagai boneka politik tidak bisa dihindari.

Kondisi ini yang tengah dirasakan Bagyo Wahyono, calon wali kota Solo. Profesinya hanya seorang tukang jahit. Dalam kontestasi ini, Bagyo berpasangan dengan FX Suparjo, seorang ketua RW. Mereka maju lewat jalur independen tak lama setelah pasangan Gibran-Teguh mendaftar.

Duet Bagyo-Suparjo alias Bajo merasa optimis bakal mendapat banyak dukungan di Pilkada Solo. Mereka bahkan punya relawan bernama Tikus Pithi Hanoto Baris yang selama ini menjadi garda terdepan. Kumpulan relawan ini berasal dari masyarakat kalangan bawah alias wong cilik.

Berikut wawancara lengkah jurnalis merdeka.com Wilfridus Setu Embu dengan Bagyo Wahyono melalui telepon pada Selasa malam kemarin:

Bagaimana selama ini kegiatan yang Anda lakukan untuk menghadapi Pilkada Solo?

Kalau masalah untuk kita tiap hari door to door berjalan terus. Kita mengacu pada protokol kesehatan yang digunakan. Karena dulu sama KPU, kalau Mas Gibran menggunakan daring. Kalau kita door to door. Makanya kita kesepakatan itu kita jalankan. Tapi akhir-akhir ini Mas Gibran juga sama door to door. Monggo.

Kalau kita mau kampanye terbuka itu juga dibatasi hanya 50 orang. Daripada 50 orang mending kita door to door. Paling nanti dievaluasi. Mungkin dari komunitas-komunitas. Maaf, karena kita itu wong cilik. Kita memang kapasitas pendanaan terbatas. Semampu kita. Orang Solo itu kan tahu kebutuhan orang Solo itu apa.

bagyo wahyono dan fx supardjo calon independen pilkada solo

Bagyo Wahyono dan FX Supardjo calon independen Pilkada Solo ©2020 Merdeka.com

Jadi seperti pesan banner, stiker, itu saja juga nunggu urunan lagi. Jadi kita tidak secepat seperti sebelah. Karena kita memang dana terbatas. Jadi mana yang didahulukan, yang lebih penting. Juga masalah konsumsi. Juga disuplai dari Solo Raya, ada yang beras, ada yang membawa sayur mayur.

Tadi Anda cerita soal urunan untuk dana dan logistik. Ada pandangan untuk ikut suksesi politik butuh biaya besar. Bagaimana pengalaman Anda dan pasangan duet Anda dalam hal pendanaan selama proses ini?

Kalau kita ini pendanaan memang Tikus Pithi Hanoto Baris seluruh Indonesia. Anggotanya kan ada dimana-mana. Itu istilahnya karena saudaranya di Solo maju Pilwalkot Solo maka dari sisi pimpinan memang istilahnya memberikan warning ke semua anggota untuk mereka itu gotong-royong membantu.

Kayak tadi, kalau Solo Raya itu makanan. Kalau luar kota memang suplai menggunakan dana. Tikus Pithi itu kan memang bukan siapa-siapa. Kebetulan dengan adanya, sekarang sudah menjadi calon. Ini kan mereka sangat bangga. Jadi semangat sekali. Door to door juga kita gunakan semua anggota untuk bantu mencarikan data, form yang akurat. Data itu ada KTP, sampai sekarang sudah mencapai sekitar 80-an ribu.

Formulirnya untuk dukungan independen?
Iya. Kita kan kekuatannya di door to door. Kita sapu bersih seluruh Solo Raya dari 5 kecamatan kita kirimkan orang sekitar 5.000 untuk dibagi setiap pagi-sore. Jadi semua ‘nyerang’ ke RT/RW. Ada komunitas-komunitas. Terutama door to door.

Karena kita koalisi rakyat maka kita semua bersatu bahwa ini adalah kita dobrak kemapanan. Yang selama ini kan, orang kalau mau jadi apapun kan mesti pakai duit sekolah bikin pinter. Kalau sekarang ini mendobrak kemapanan. Siapapun berhak bisa menjadi Walikota atau apa saja, DPRD dan sebagainya. Walaupun nggak punya dana.

Urun rembuk itu dipatok jenis barang atau besaran dana yang disumbangkan, atau sukarela?*

Iya. Istilahnya di daerah, misalnya Klaten itu kan suplainya beras. Nanti dari Karanganyar sayur mayur. Ada yang dari Sragen, Wonogiri. Tergantung panennya apa. Jadi memang, saya sendiri sampai menangis. Sampai tidak bisa berbicara. Saya ini bukan siapa-siapa sampai betul-betul kembali kayak dulu lagi. Persatuan, gotong-royong mulai kental.

Saya pun ke mana-mana. Kalau ke Wonogiri, Jogja, atau ke Jawa Timur, hasil ketemu saudara yang betul-betul, di sana diopeni. Pulang ada duit bensin, sampai ke sini, itu persaudaraan yang betul-betul saya rasakan saat ini kembali lagi.

Apakah dana operasional juga hasil urunan?

Iya misalnya kita touring menjumpai teman-teman yang di luar kota. Di sana itu senang sekali. Dijamin kadang-kadang untuk bensinnya diberi, ongkos kembalinya. Memang kita itu orang yang rendah semua. Tidak punya apa-apa. Saya pun kan tidak boleh untuk mengeluarkan uang. Harus betul-betul ini pure gotong-royong masyarakat, Tikus Pithi agar saya sadar bahwa saya diangkat karena masyarakat. Jadi saya pelayan masyarakat. Saya mengabdikan diri kepada masyarakat. Ini memang tidak lazim tapi harus dimulai seperti itu.

Sebenarnya apa motivasi Anda dan Suparjo ingin maju dalam Pilkada Solo dan melawan Gibran yang merupakan anak Presiden Jokowi?

Pertama, saya itu kan tangisan dari teman-teman bawah, wong cilik. Saya sering main ke teman-teman orang-orang di bantaran, rumah susun. Yang memang rumah-rumah padat penduduk. Yang nggak layak. Di situ jeritan itu saya dengar. Sebetulnya saya pun menolak untuk dicalonkan sama Tikus Pithi.

Saya menyadari saya tidak punya kepintaran. Saya tidak mudeng politik, tidak mudeng birokrasi. Tapi karena ini semua keputusan dari Tikus Pithi memilih saya. Saya harus maju. Tidak boleh ditolak. Kekuatan saya adalah tangisan dari teman-teman dari bawah itu. Yang SMP mau SMA, anaknya ‘tenggelam’, tidak bisa sekolah. Banyak yang ijazah masih tertahan di sekolah. Ada yang KIS sampai 2 tahun urus tidak dapat. Macem-macem. Bukan karena saya, tapi teman-teman yang minta diperjuangkan haknya.

Bisa jelaskan sedikit soal komunitas yang mendukung Anda?

Tikus Pithi Hanoto Baris. Itu artinya perkumpulan masyarakat kecil yang menata baris untuk perubahan.

Komunitas ini sudah berapa usianya?

Sudah hampir 6 tahun dan sudah sampai ke Papua, Papua Barat, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta. Anggota kita sudah ratusan ribu.

Seperti apa program yang Anda sudah bikin untuk Solo ke depan?

Program kita itu, sandang, pangan, dan papan. Sandang itu, sandangnya kota Solo. Tentang adat-adatnya, saling menghormati, menghargai, gotong-royong, toleransi, unggah-ungguh, toto kromo. Juga sandang yang sesungguhnya. Kita berdayakan sandangan yang ada di Kota Solo. Termasuk batik, produk-produk lokal yang ada di kota Solo. Minimal harus mulai ke budaya lokal. Termasuk busana. Termasuk adab-adabnya.

Kalau pangan. Nanti kita kembalikan lagi ekonomi kerakyatan. Kita UMKM itu kembalikan lagi untuk kita bantu. Termasuk nanti aset pariwisata akan menyangkut dengan UMKM. Nanti kita satukan.

Jadi kita punya paket wisata. Keratonnya didandani, wayang orang, ketoprak, keroncong. Itu ditata kembali. Termasuk industri yang ada di Kota Solo, kerajinan. Kan ada banyak sekali. Nanti ditata kembali. Per kampung ada galerinya, untuk blangkon, keris, gamelan. Sekarang kan mati suri semua.

Nantinya juga akan kita dukung untuk pendanaan. Artinya pendanaan yang sifatnya bagaimana bisa pinjaman selunak-lunaknya. Kita dirikan koperasi di setiap kelurahan. Jadi nanti kita membangun kota kita dengan gotong-royong, dengan semua warga. Yang tahu kebutuhannya, yang tahu kotanya, ya warga kita sendiri. Warga Solo maunya apa. Bukan dari atas ke bawah. Jadi kita menggali aspirasi dari masyarakat.

Kalau program yang ketiga, papan?

Itu penataan kota. Tata kelola kan seperti banjir, macet. Termasuk kita, ini bukan hanya bangun bangun saja. Program kita (untuk) puluhan tahun. Misalnya macet. Setiap tahun macet terus. Karena pertumbuhan kendaraan setiap hari saja begitu.

Kalau flyover kanan kirinya kan mati, tidak hidup perekonomiannya. Kita sekali bangun (untuk) puluhan tahun. Banjir ya sama. Per tahun pasti ada banjir. Nanti ada sungai di bawah tanah. Dulu keraton Solo itu dulu kan ada sungai bawah tanah peninggalan Belanda. Nanti kita aktifkan kembali. Kalau tidak boleh kita akan rembuk bareng dengan wong Solo. Plus-minusnya dimana. Kalau banyak yang plusnya, kenapa tidak.

Menurut Anda, apa saja yang perlu dibenahi di Kota Solo?

Kalau saya pribadi. Kunci pertama itu tentang anak yatim-piatu. Istilahnya pemeliharaan anak yatim-piatu yang betul-betul manusiawi. Kita sekolahkan, kita beri pelatihan sampai bisa kuliah. Kita bertanggung jawab sampai jadi orang. Termasuk anak terlantar, jompo. Setelah itu baru membangun kota. Diantaranya, Solo itu yang hilang aset pariwisata. Makanya Keraton harus direhab lagi. Karena itu aset budaya.

Segi kepemimpinan yang masih kurang di kota Solo selama ini seperti apa?

Menurut saya ya aset pariwisata. Sekarang anak-anak kita mau wisata dimana. Kita tidak punya. Kita kan wong cilik. Kita tahu kebutuhan. Selama saya lahir sampai sekarang kita lihat, agama bagus, kebersihan nomor satu terus.

Apa kritik Anda terhadap kepemimpinan selama ini seihingga mendorong Anda maju di Pilkada Solo?

Satu yang jelas. Kalau jujur, kita itu ada tamu dari luar kota. Mau melihat wisata di sini apa. Saya sendiri juga bingung. Mau apa. Paling makan gudeg. Mau kemana lagi, ya bingung. Kalau makanan itu saja yang kita suguhkan. Tapi aku untuk yang sifatnya cagar budaya dan sebagainya, mana lagi.

Coba sekali ke Solo, biar fair. Bisa lihat. Nanti sama saya kita keliling. Jadi fair. Nanti akan tahu jeritan masyarakat. Ini bukan rekayasa. Mau ngurus KIS saja 2 tahun. Padahal sampai jompo. Itu yang di rumah susun itu banyak Pak keluhan-keluhan. Saya kan kasihan sudah sepuh harus urus itu. Ada yang ijazah tertahan di sekolah. Ini sehelai nyawa pun kan berarti, berharga. Dia juga berhak karena membayar pajak. Kasihan.

Dan ironisnya kok memberi bantuan. Ini juga salah. Mungkin salah mengucapkan. Jangan bantuan. Wong masyarakat punya hak kok. Haknya diberikan. Jangan sampai memberi bantuan. Itu kan salah. Kedaulatan kan di tangan rakyat. Janji kemerdekaan kan begitu.

Semaunya ada yang baik. Yang kurang baik nanti kita perbaiki lagi. Walikota kan tidak semua jelek yang sebelumnya. Tapi minimal kita membenahi yang masyarakat merasa ini belum terealisasi. Kita yang merealisasikan. Jadi menyambung dengan Walikota yang lama kita sinergi. Kita kan independen. Nggak pandang bulu kamu dari partai, A, B, C, D, selama saya jadi kita Walikota saya mengayomi.

Sejumlah pihak menyebut paslon Anda sebagai calon boneka. Bagaimana Anda memastikan bahwa tuduhan itu tidak mendasar?

Kalau calon boneka, pertama, kan kita door to door. Kita kan minta dukungan setiap warga Solo Raya. Caranya door to door itu agar kita diberi dukungan. Kedua, kenapa tidak diturunkan partai saja, dua partai kan cukup. Daripada koalisi seperti itu mending diturunkan kan selesai.

Kalau saya apa punya nama? Kan di sini banyak. Orang-orang besar di Solo kan banyak. Kenapa harus saya? Mestinya kan harus cerdas. Kan saya kan musuh (lawan)-nya bukan Mas Gibran. Jangan salah. Musuh saya dulu kan pertama Pak Purnomo (Achmad Purnomo) dan Pak Teguh (Teguh Prakosa).

Sebenarnya apa saja persiapan Anda dari awal untuk maju di Pilkada Solo?

Iya. Kan saya mendaftar di KPU pertama kali. Itu saja PDIP belum merekomendasi siapapun. Setelah itu Mas Teguh dan Pak Purnomo baru muncul. Kira-kira tiga minggu baru muncul. Tapi baru muncul. Belum mendapatkan rekomendasi. Tapi baliho sudah dimana-mana. Saya pikir, ‘wah ini berat. Lawan saya adalah Pak Purnomo dan Mas Teguh. Nggak tahu Mas Gibran.

Tiba-tiba terakhir datang Mas Teguh sama Mas Gibran. Kan kita nggak tahu. Diruntutkan, coba ke KPU, ‘Pak, dari (paslon) Bajo itu daftarnya tanggal berapa. Kan kelihatan. Saya pun nggak tahu. Wong saya dipersiapkan 6 tahun yang lalu kok. Jadi saya dipersiapkan nggak tahu.