INTERNASIONAL- Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un kemarin mengaku upayayanya memperbaiki perekonomian negaranya yang hancur telah gagal. Pengakuan ini disampaikan Kim saat membuka Kongres Partai Buruh kedelapan, di tengah memburuknya kondisi perekonomian akibat sanksi internasional dan pandemi virus corona.

Kongres Partai Buruh yang berkuasa merupakan agenda politik terbesar di negara komunis tersebut.

“Rencana pembangunan ekonomi lima tahunan kita telah gagal mencapai tujuannya di hampir semua sektor,” jelas Kim di Pyongyang, dikutip dari The New York Times, Rabu (6/1).

Kim mengatakan, negaranya berjuang dengan serangkaian krisis terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Teks pidatonya diterbitkan kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA pada Rabu pagi.

Kongres ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari untuk menetapkan rencana ekonomi lima tahunan dan penyusunan ulang kepengurusan partai, yang mana ulasan kebijakan Kim yang lebih rinci akan diumumkan kemudian pada pekan ini.

Ketika Korea Utara menyelenggarakan kongres terakhir partai pada 2016, itu menjadi agenda perkumpulan pertama dalam 36 tahun dan agenda besar Kim sebagai pemimpin. Saat itu, Kim berjanji membangun negara sosialis besar pada 2020 yang memiliki senjata nuklir dan ekonomi yang berkembang.

Tapi segalanya tak berjalan sesuai yang diharapkan Kim.

Sejak berkuasa menyusul kematian ayahnya pada 2011, Kim Jong Il, Kim Jong Un meningkatkan kekuatan senjata nuklir dan program rudal negaranya. Korea Utara telah melakukan empat uji nuklir terakhir di bawah pemerintahan Kim. Pada 2017, dilakukan uji coba rudal balistik antarbernua.

Dewan Keamanan PBB menanggapi dengan memberlakukan sanksi yang menghancurkan perekonomian Korea Utara seperti pelarangan ekspor batu bara, bijih besi, tekstil, dan ekspor utama Korea Utara lainnya.

Pada 2017, ekonomi Korea Utara menyusut 3,5 persen, menurut perkiraan bank sentral Korea Selatan. Pada 2018, terjadi kontraksi sebesar 4,1 persen, saat ekspor Korea Utara ke China, satu-satunya mitra dagang utamanya, anjlok sebanyak 86 persen.

Kim memulai diplomasi dengan Presiden AS Donald Trump pada 2018, sangat ingin agar sanksi dicabut sebagai imbalan atas pembongkaran sebagian fasilitas nuklirnya. Tetapi tiga pertemuannya dengan Trump gagal menghasilkan terobosan.

Tahun 2020, Korea Utara menutup perbatasannya dengan China untuk mencegah masuknya wabah virus corona. Hal ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Korea Utara. Belum lama ini wilayah Korea Utara dilanda banjir besar yang memperburuk kondisi kehidupan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi pun anjlok sebagaimana tahun 2019.

Menurut data yang dirilis pemerintah China, impor Korea Utara dari China dari Januari sampai Oktober 2020 turun 76 persen menjadi USD 487 juta, sementara ekspor turun 74 persen menjadi USD 45 juta pada periode yang sama.

Saat memimpin perayaan nasional HUT 75 tahun Partai Buruh pada 10 Oktober 2020, Kim memamerkan rudal balistik antarbenua terbesar yang pernah ada selama parade militer malam hari yang langka di Pyongyang.

Dalam kesempatan itu, Kim juga meminta maaf kepada rakyatnya karena gagal memenuhi harapan mereka.

“Saya benar-benar minta maaf untuk itu,”katanya sambil menahan air mata.

“Upaya dan ketulusan saya belum cukup untuk membebaskan orang-orang dari kesulitan dalam hidup mereka.”