Internasional- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu disuntik vaksin Covid-19, menandai dimulainya vaksinasi nasional dalam beberapa hari ke depan.

Netanyahu (71) dan Menteri Kesehatan disuntik pada Sabtu menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech yang disiarkan televisi secara langsung di Sheba Medical Center di Ramat Gan, dekat Tel Aviv.

“Saya diminta jadi orang pertama yang divaksin, bersama dengan Menteri Kesehatan Yuli Edelstein, bertindak sebagai contoh personal dan mendorong kalian untuk divaksin,” jelas Netanyahu kepada penonton televisi, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (20/12).

“Ini adalah momen yang sangat mengharukan,” lanjutnya, seraya menambahkan tempat usaha akan segera bisa buka kembali dan orang-orang bisa kembali bekerja seperti semula.

Dia mengatakan, kedatangan vaksin Pfizer, dan kemudian dari Moderna, menandai awal dari akhir pandemi.

Netanyahu dan Edelstein harus menerima suntikan pendorong dalam tiga pekan untuk perlindungan maksimal dari virus corona.

Vaksin akan diluncurkan di 10 rumah sakit dan pusat vaksinasi sekitar Israel untuk petugas kesehatan mulai pada Minggu, menurut Kementerian Kesehatan.

Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan mengatakan vaksinasi akan diperluas untuk masyarakat umum, mulai dari mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Kampanye vaksinasi massal, disebut terbesar dalam sejarah Israel. Dosis vaksin pertama tiba di Israel pekan lalu, dan ditargetkan 60.000 suntikan per hari.

Warga Palestina Menunggu Lebih Lama
Israel mencapai kesepakatan dengan Pfizer untuk memasok 8 juta dosis vaksin, cukup untuk menutupi hampir setengah populasi Israel yang jumlahnya mendekati angka 9 juta jiwa karena setiap orang diwajibkan mendapatkan dua dosis suntikan.

Israel juga mencapai kesepakatan terpisah dengan Moderna awal bulan ini untuk membeli 6 juta dosis vaksin, cukup untuk 3 juta warga Israel. Namun jutaan warga Palestina yang hidup di bawah kendali Israel harus menunggu lebih lama.

Kampanye vaksinasi Israel termasuk penduduk Yahudi yang tinggal di wilayah yang diduduki secara illegal di Tepi Barat, yang merupakan warga Israel, tapi bukan wilayah 2,5 juta warga Palestina.

Mereka harus menunggu Otoritas Palestina yang kekurangan dana untuk menyediakan vaksin, yang mengelola sebagian Tepi Barat di bawah perjanjian perdamaian sementara yang dicapai pada 1990-an.

Data Kementerian Kesehatan Israel terbaru melaporkan lebih dari 370.000 orang telah dites positif terkena virus sejak negara itu mengonfirmasi kasus pertamanya pada Februari.

Lebih dari 3.000 orang meninggal di negara berpenduduk sekitar 9 juta itu.