Internasional-  Aparat Vietnam menangkap Pham Doan Trang, salah satu jurnalis independen paling terkemuka di negara itu. Dia ditahan pada Selasa malam di Kota Ho Chi Minh, hari yang sama saat Vietnam dan AS mengadakan dialog hak asasi manusia tahunan AS-Vietnam ke-24, yang mencakup pembicaraan tentang masalah-masalah seperti hak atas kebebasan berekspresi.

Dikutip dari laman The Guardian, Kamis (8/10), para pengamat mengatakan penangkapannya adalah bagian dari tindakan keras terhadap para aktivis menjelang kongres nasional lima tahunan Vietnam pada Januari, sementara Facebook menghadapi kritik karena semakin terlibat dalam menekan kebebasan berbicara.

Otoritas Vietnam mengkonfirmasi bahwa mereka telah menuduh Trang “membuat, menyimpan, mendistribusikan atau menyebarkan informasi, dokumen dan barang” yang bertujuan untuk menentang pemerintah. Ancaman hukuman terberat untuk kejahatan ini adalah 20 tahun penjara.

Trang adalah penulis banyak buku yang karyanya mencakup segala hal mulai dari hak-hak perempuan dan masalah LGBT hingga masalah lingkungan, aktivisme, dan hak atas tanah. Pada 2019, Reporters Without Borders memberinya Hadiah Kebebasan Pers sebagai pengakuan atas pengaruhnya.

Baru-baru ini, dia berbicara secara daring tentang bentrokan hak atas tanah yang sangat sensitif di Desa Dong Tam, terkait dengan pembangunan bandara militer di tanah pertanian yang diklaim oleh penduduk desa di pinggiran Hanoi. Satu warga desa dan tiga polisi tewas dalam bentrokan.

Phil Robertson dari Human Rights Watch mengatakan, “Meskipun bertahun-tahun menderita pelecehan sistemik oleh pemerintah, termasuk serangan fisik yang parah, dia tetap setia pada prinsip-prinsip advokasi damai untuk hak asasi manusia dan demokrasi, pendekatannya yang bijaksana untuk reformasi dan tuntutan untuk partisipasi nyata masyarakat dalam pemerintahan mereka, adalah pesan yang harus didengarkan dan dihormati oleh pemerintah Vietnam, bukan ditindas”.

 

Ming Yu Hah dari Amnesty International juga mengatakan bahwa “Ini adalah penangkapan yang keterlaluan, Pham Doan Trang adalah tokoh perjuangan hak asasi manusia di Vietnam, dia telah menginspirasi banyak aktivis muda untuk berbicara demi Vietnam yang lebih adil, inklusif, dan bebas”.

Hah menambahkan, keputusan Facebook untuk tunduk pada tuntutan otoritas Vietnam untuk penyensoran awal tahun ini membuat mereka terlibat dalam penindasan yang keras terhadap kebebasan berekspresi di negara itu.

Pada Maret lalu, sebuah laporan Reuters juga mengungkapkan bagaimana Facebook menghadapi tekanan kuat dari pemerintah Vietnam. Perusahaan telekomunikasi yang dikelola negara menjadikan server lokal situs media sosial padam, yang memperlambat lalu lintas lokal di situs tersebut. Akibatnya, perusahaan mulai mengizinkan penyensoran di Vietnam atas konten yang dianggap “anti-negara”, termasuk yang dilakukan oleh aktivis seperti Trang.

Perusahaan telekomunikasi menekankan bahwa unggahan tidak dihapus melainkan “diblokir secara geografis”, yang berarti tidak dapat dilihat oleh pengguna dengan alamat IP Vietnam, namun masih terlihat oleh pengguna di luar negeri.

Saat ini Vietnam sedang dalam proses menyelesaikan pedoman untuk undang-undang keamanan sibernya yang sangat kontroversial, yang mengharuskan perusahaan internet seperti Facebook dan Google untuk menghapus konten yang dianggap “anti-negara” dan mengatakan perusahaan teknologi AS harus mendirikan kantor dan server lokal di Vietnam jika mereka ingin terus beroperasi.