Internasional- Ahli ekonomi di Universitas Stanford memperkirakan kampanye yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa menambah 30.000 kasus positif C0vid-19 dan menyebabkan lebih dari 700 kematian. Demikian menurut sebuah makalah penelitian yang yang diunggah ke dunia maya akhir pekan ini.

Penelitian yang dipimpin oleh B Douglans Bernheim, kepala jurusan ekonomi di Universitas Stanford, menganalisis data dari 18 kampanye Trump yang digelar dari 20 Juni hingga 22 September, tiga di antaranya dilakukan di dalam ruangan. Berneheim mengatakan dalam surat elektronik, penelitian ini dibuat berdasarkan metode statistik setelah kampanye Trump digelar.

Dilansir dari laman Reuters, Senin (2/11), Trump menggelar rangkaian kampanye di sejumlah negara bagian seperti Pennsylvania, Minnesota dan Wisconsin, di mana negara bagian tersebut tingkat infeksi virus corona sudah melonjak.

Para ahli sudah sejak lama memperkirakan kampanye Trump bisa menjadi pusat penyebaran baru Covid-19. Namun sejauh ini para ilmuwan tidak mempunyai rujukan memadai karena kurangnya pelacakan dan pengetesan di banyak negara bagian.

Sebagian besar kampanye Trump yang diadakan di luar ruangan memperlihatkan massa berkumpul tanpa menjaga jarak satu sama lain dan begitu juga banyak yang tidak memakai masker. Hal ini dapat menimbulkan risiko penularan.

Pakar kesehatan masyarakat di Minnesota mengaitkan empat wabah COVID-19 dan lebih dari 25 kasus yang terjadi dengan kampanye Trump yang diadakan di negara bagian itu pada September dan Oktober.

Sebelas departemen kesehatan di masing-masing negara bagian yang dihubungi Reuters mengatakan mereka belum dapat memastikan penyebaran tersebut berasal dari kampanye Trump.
Meskipun beberapa negara bagian, termasuk Michigan dan Wisconsin, sudah memastikan orang-orang yang kemudian dites positif COVID-19 akibat dari menghadiri acara kampanye Trump.

Pakar penyakit mengatakan pelacakan kontak yang ketat dari satu peristiwa besar seperti itu dapat membantu prediksi yang akurat tentang seberapa menular kampanye tersebut.