EKONOMI- Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta

sekaligus Wakil Ketua Umum PHRI Pusat, Sutrisno Iwantono, menyebut ada peningkatan okupansi hotel di ibu kota saat momen libur Natal 2020. Peningkatan okupansi sendiri mencapai 15 persen dibandingkan hari biasanya.

“Saya kira gini ya sudah ada sedikit peningkatan (okupansi) pada Natal ini dibandingkan biasanya. Berkisar antara 10 sampai 15 persen lah dibandingkan hari biasanya,” ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (26/12).

Sutrisno mengungkapkan, peningkatan okupansi ini mengindikasikan adanya perbaikan kepercayaan masyarakat akan keamanan hotel dari paparan virus Covid-19.

Dia menilai hal ini tak lepas dari komitmen pelaku usaha hotel di Tanah Air untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat di masa kedaruratan kesehatan akibat penyebaran virus mematikan asal China itu.

“Karena kan umumnya pengunjung hotel itu orang yang bisa menilai lah seberapa ketat penerapan protokol kesehatan di hotel, sehingga mereka memilih hotel untuk menghabiskan waktu libur Natal. Hal ini dibuktikan dengan hotel bukan klaster penularan Covid-19,” jelas dia.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah pusat maupun Pemprov DKI untuk tidak menyamaratakan ketentuan pengetatan bisnis hotel dengan bisnis lainnya di masa kedaruratan kesehatan ini. “Karena kan tadi hotel paling taat menerapkan protokol kesehatan dan tamunya relatif terdidik juga,” tegasnya.

Selain itu, pelonggaran ketentuan usaha hotel juga diharapkan akan menjaga tren positif penambahan tingkat okupansi hotel hingga periode Tahun Baru 2021. “Sehingga mudah-mudahan tahun baru nanti terus ada perbaikan okupansi ya, untuk kisarannya kita belum tahu,” ujar dia mengakhiri.

 

 

1.000 Hotel dan Restoran Kantongi Sertifikat Protokol Kesehatan Berbasis CHSE

dan restoran kantongi sertifikat protokol kesehatan berbasis chse

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus mendorong pelaku industri hotel dan restoran di berbagai destinasi wisata dalam negeri untuk melakukan sertifikasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability). Sertifikat ini sangat penting untuk kembali meningkatkan kunjungan pariwisata Indonesia yang terdampak akibat pandemi Covid-19.

Koordinator Pemasaran Pariwisata Regional I Area III Kemenparekraf, Bulqis Chairina menegaskan bahwa kepemilikan sertifikasi CHSE sangat penting untuk pelaku usaha hotel dan restoran. Sertifikasi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan.

“Kebijakan sebenarnya bukan hanya Bali, tapi seluruh Indonesia. Kita punya program yaitu sosialisasi dan sertifikasi CHSE. Karena memang jaid satu kegiatan Kemenpar,” terangnya dalam acara “Perjalanan Wisata Pengenalan Kerjasama Dengan PT AirAsia Indonesia,” di Bali, Minggu (15/11).

Dia mencatat, saat ini baru ada 1.000 hotel dan restoran di berbagai destinasi wisata tanah air yang telah mengantongi sertifikat protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) per November 2020. Menyusul ketatnya tahap uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat tersebut

“Informasi terakhir bulan ini yang kami dapatkan itu ada 5.000 peserta yang ikut berpartisipasi di kegiatan sosialisasi CHSE. Tetapi dengan adanya assesmen dan pengujian, itu ada 1.000 yang dinyatakan untuk lolos ya,” terangnya.

Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk aktif mensosialisasikan protokol kesehatan CHSE bagi pelaku usaha industri hotel dan restoran di dalam negeri. Guna kembali menggeliatkan industri pariwisata dalam negeri yang mati suri.

“Kita menyadari ya pada saat pandemi ini khususnya (pariwisata) agak menurun ya. Tetapi pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata mencoba untuk sama-sama membantu industri pariwisata dengan sosialisasi protokol CHSE,” katanya.

Dia menegaskan bahwa seluruh biaya atas sertifikasi protokol kesehatan anyar itu ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

“Kebetulan untuk kegiatan CHSE untuk industri dan pelaku industri (pariwisata) itu digratiskan tidak ada biaya sama sekali. Pemerintah melaksanakan itu. Jadi, tidak ada sama sekali biaya,” katanya.

Bulqis mengatakan, saat ini diperlukan upaya nyata dari pelaku industri pariwisata untuk mewujudkan pariwisata dalam negeri yang aman dari paparan virus Covid-19. Salah satunya dengan mengantongi sertifikat CHSE

Sehingga mobilitas warga untuk pelesiran akan kembali meningkat. Mengingat tujuan utama CHSE untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap keamanan pariwisata dalam negeri di masa kedaruratan kesehatan ini.

“Karena memang kita juga berusaha untuk sama-sama membantulah. Gimana (pariwisata) ini bisa kembali bangkit.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong seluruh pelaku industri di yang terkait dengan pariwisata untuk memanfaatkan program sertifikasi CHSE. Menyusul program tersebut jadi salah satu strategi pemerintah menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru.

“Kita harus menyadari, bahwa pandemi ini harus kita terima. Maka kita tetap menjaga protokol kesehatan itu saja (CHSE),” tutupnya.