INTERNASIONAL- Setelah terdeteksi di Inggris beberapa bulan lalu, varian baru virus corona telah menyebar ke sejumlah negara. Baru-baru, varian baru virus ini juga dilaporkan di Amerika Serikat.

Varian baru ini disebut lebih menular bahkan 70 kali lebih menular dibanding virus lama. Di Inggris, varian baru ini menyebabkan lonjakan kasus dan rumah sakit disesaki pasien.

“Intinya adalah apapun yang kita lakukan untuk mengurangi penularan akan mengurangi penularan varian apapun, termasuk yang satu ini,” jelas virolog yang berafiliasi dengan Universitas Georgetown, Angela Rasmussen, dikutip dari The New York Times, Jumat (1/1).

Terkait kenapa varian baru ini lebih menular dibanding virus sebelumnya, dan mengapa virus yang menular dengan mudah ini tak membuat orang yang tertular sakit parah, sejumlah pakar memberi penjelasan.

Benarkah 70 Persen Lebih Menular?

persen lebih menular

Banyak varian virus corona muncul sejak pandemi dimulai. Tetapi semua bukti sejauh ini menunjukkan bahwa mutan baru, yang disebut B.1.1.7, lebih menular daripada varian sebelumnya. Varian baru ini pertama kali muncul pada September di Inggris, tetapi telah menyumbang lebih dari 60 persen kasus baru di London dan sekitarnya.

Varian baru diperkirakan menginfeksi lebih banyak orang daripada varian sebelumnya, bahkan ketika lingkungannya sama. Tidak jelas apa kelebihan varian ini, meskipun terdapat indikasi bahwa varian baru ini dapat menginfeksi sel dengan lebih efisien.

Juga sulit untuk mengatakan dengan tepat berapa banyak varian baru yang mungkin ditularkan, karena para ilmuwan belum melakukan jenis eksperimen laboratorium yang diperlukan. Sebagian besar kesimpulan diambil dari pengamatan epidemiologi, dan “ada begitu banyak kemungkinan bias dalam semua data yang tersedia,” kata Muge Cevik, pakar penyakit menular di Universitas St Andrews Skotlandia dan penasihat ilmiah pemerintah Inggris.

Awalnya para ilmuwan memperkirakan varian baru 70 persen lebih menular, tapi penelitian pemodelan terbaru menetapkan tingkat penularannya 56 persen. Setelah peneliti menyaring semua data, ada kemungkinan bahwa varian tersebut hanya 10 hingga 20 persen lebih menular, menurut ahli biologi evolusi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle AS, Trevor Bedford.

Namun demikian, Bedford mengatakan kemungkinan varian baru ini akan menjadi bentuk dominan di AS pada Maret. Ilmuwan seperti Dr Bedford melacak semua varian yang diketahui dengan cermat untuk mendeteksi perubahan lebih lanjut yang mungkin mengubah perilaku mereka.

Berbeda dengan Varian Lama

Mutan baru ini bisa jadi menyebar lebih mudah, tapi di sisi lain sedikit berbeda dengan varian lama.

Sejauh ini, setidaknya, varian baru ini tak terlihat bisa membuat orang lebih parah atau bahkan menyebabkan kematian. Tapi yang juga menjadi kekhawatiran ialah sebuah varian yang lebih menular akan meningkatkan angka kematian sederhananya karena dia menyebar lebih cepat dan menginfeksi lebih banyak orang.

“Dalam hal ini, ini hanya permainan angka,”jelas Dr Rasmussen.

Efeknya akan diperkuat “di tempat-tempat seperti AS dan Inggris, di mana sistem perawatan kesehatan benar-benar berada pada titik puncaknya”.

Jalur penularan – melalui tetesan kecil, dan partikel aerosol kecil yang mengapung di dalam ruangan tertutup – tak berubah. Itu berarti masker, jaga jarak, dan meningkatkan ventilasi ruangan tertutup akan membantu mencegah penyebaran varian baru ini, sama dengan tindakan pencegahan virus lainnya.

“Dengan meminimalisir paparan Anda terhadap virus apapun, Anda akan mengurangi risiko terinfeksi, dan itu akan mengurangi penularan secara keseluruhan,” jelas Rasmussen.

Tingkatkan Jumlah Virus dalam Tubuh

Beberapa bukti awal dari Inggris menunjukkan orang yang terinfeksi dengan varian baru cenderung membawa lebih banyak virus di hidung dan tenggorokan mereka daripada mereka yang terinfeksi dengan versi sebelumnya.

“Kami berbicara dalam kisaran antara 10 kali lipat lebih besar dan 10.000 kali lipat lebih besar,” jelas Michael Kidd, ahli virologi klinis di Public Health England dan penasihat klinis pemerintah Inggris yang telah mempelajari fenomena tersebut.

Ada penjelasan lain untuk temuan ini – Dr Kidd dan rekannya tidak memiliki akses ke informasi tentang kapan orang dalam keadaan sakit dites, misalnya, yang dapat memengaruhi apa yang disebut viral load atau muatan virus.

Namun, temuan tersebut menawarkan satu kemungkinan penjelasan mengapa varian baru menyebar lebih mudah. Semakin banyak virus yang disimpan orang yang terinfeksi di hidung dan tenggorokan mereka, semakin banyak mereka mengeluarkannya ke udara dan ke permukaan saat mereka bernapas, berbicara, bernyanyi, batuk atau bersin.

Akibatnya, situasi yang membuat orang terpapar virus memiliki peluang lebih besar untuk menyebarkan infeksi baru. Beberapa data baru menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi varian baru menyebarkan virus ke lebih banyak kontak mereka.

Dengan versi virus sebelumnya, pelacakan kontak menunjukkan sekitar 10 persen orang yang melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi – dalam jarak enam kaki selama setidaknya 15 menit – cukup menghirup virus untuk terinfeksi.

“Dengan varian tersebut, kami mungkin mengharapkan 15 persen dari itu,” kata Dr Bedford.

“Saat ini aktivitas berisiko menjadi lebih berisiko.”

 

Mutasi Mengubah Virus

Varian tersebut memiliki 23 mutasi, dibandingkan dengan versi yang muncul di Wuhan, China, setahun lalu. Tetapi 17 dari mutasi itu muncul tiba-tiba, setelah virus menyimpang dari nenek moyangnya yang paling baru.

Setiap orang yang terinfeksi merupakan inang, memberi peluang bagi virus untuk bermutasi saat berkembang biak. Dengan lebih dari 83 juta orang terinfeksi di seluruh dunia, virus corona mengumpulkan mutasi lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan pada awal pandemi.

Sebagian besar mutasi tidak menguntungkan virus dan mati. Tetapi mutasi yang meningkatkan kebugaran atau penularan virus memiliki peluang lebih besar untuk menyebar.

Setidaknya satu dari 17 mutasi baru dalam varian ini berkontribusi pada penularan yang lebih besar. Mekanismenya belum diketahui. Beberapa data menunjukkan varian baru bisa jadi mengikat lebih erat ke protein di permukaan sel manusia, memungkinkannya untuk lebih mudah menginfeksi manusia.

Ada kemungkinan varian baru ini berkembang di hidung dan tenggorokan orang yang terinfeksi, tetapi tidak di paru-paru, misalnya – yang dapat menjelaskan mengapa pasien lebih mudah menyebarkannya tetapi tidak menderita penyakit yang lebih parah daripada yang disebabkan oleh versi virus sebelumnya. Para ahli mengatakan, beberapa virus influenza berperilaku serupa.

“Kami perlu melihat bukti ini sebagai permulaan dan akumulasi,” kata Dr. Cevik tentang data yang berkembang pada varian baru.

Namun, penelitian sejauh ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mengurangi transmisi varian baru ini.

 “Kami harus lebih berhati-hati, dan melihat celah dalam langkah-langkah mitigasi kami,” pungkas Dr Cevik.