Internasional- Gereja-gereja di sekitar Prancis menggelar ibadah Minggu untuk menghormati tiga orang yang terbunuh dalam serangan ekstremis Muslim di Basilika Notre Dame, kota Nice, yang memaksa negara itu menerapkan peringatan keamanan tertinggi. Bersamaan dengan itu, polisi memeriksa enam tersangka kasus tersebut.

Uskup Nice, Andre Marceau mempersiapkan ibadah khusus malam hari di gereja tersebut untuk membersihkannya setelah serangan oleh pria bersenjata pisau pada Kamis lalu. Uskup Marceau juga memberi penghormatan pada korban.

Pemerintah menyebut serangan tersebut sebagai aksi terorisme Islam. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan global akibat penerbitan kartun Nabi Muhammad, yang menyinggung muslim. Para imam dan Muslim mengecam serangan Nice, menyerukan sikap tenang dan menyatakan serangan tak berkaitan dengan ajaran Islam.

Dikutip dari Times of Israel, Senin (2/11), tiga korban penyerangan gereja yaitu kepala gereja Vincent Loquest (55), pengunjung gereja Nadine Devillers (60), dan Simone Barreto Silva (44).

Para penyelidik di Prancis, Tunisia, dan Italia berupaya menetapkan motif tersangka utama Ibrahim Issaoui, pemuda 21 tahun asal Tunisia yang transit melalui Italia bulan lalu menuju Prancis, dan juga menyelidiki apakah Issaoui beraksi sendiri.

Issaoui dalam keadaan kritis di rumah sakit Prancis setelah terluka saat penangkapannya oleh polisi dan belum menjalani pemeriksaan, menurut salah seorang pejabat pengadilan.

Lima orang lainnya juga ditahan pada Minggu setelah ditangkap di Nice dan kota Grasse. Mereka berusia antara 25 tahun dan 63 tahun dan terlihat dalam sebuah video CCTV, ditangkap di rumah-rumah yang digeledah polisi sebagai bagian dari penyelidikan, kata pejabat itu, yang tidak berwenang untuk disebutkan namanya secara terbuka menurut kebijakan peradilan.

Keterkaitan mereka dengan serangan masih belum jelas. Seorang kelompok ekstremis Tunisia tak dikenal mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Tunisia dan Prancis sedang menyelidiki klaim tersebut.