Internasional – Sebuah penelitian di Singapura yang diterbitkan pada hari Jumat mengungkapkan, bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi memiliki antibodi terhadap virus corona.

Studi kecil terhadap 16 wanita juga tidak menemukan bukti penularan virus antara ibu dan bayi, menawarkan wawasan tentang area infeksi Covid-19 yang masih belum dipahami dengan baik secara global.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan wanita hamil dapat terkena dampak parah oleh beberapa infeksi saluran pernapasan, dan tidak diketahui apakah ibu dengan Covid-19 dapat menularkan virus ke bayinya selama kehamilan atau persalinan.

“Hasil studi itu meyakinkan,” kata Jaringan Riset Obstetri dan Ginekologi Singapura dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters, Jumat (18/12).

“Ini menunjukkan bahwa kejadian dan tingkat keparahan Covid-19 di antara wanita hamil sejalan dengan tren populasi umum.”

Studi tersebut mengatakan sebagian besar wanita hamil yang diteliti terinfeksi ringan, sementara reaksi yang lebih parah terjadi pada wanita yang lebih tua dan kelebihan berat badan.

Tidak ada wanita yang meninggal dan semuanya sembuh total dalam penelitian ini. Dua wanita kehilangan bayinya, yang menurut para peneliti dalam satu kasus mungkin terkait dengan komplikasi virus.

Lima wanita telah melahirkan pada saat penelitian dipublikasikan, dan semua bayi mereka memiliki antibodi tanpa terinfeksi oleh virus, meskipun para peneliti mengatakan belum jelas tingkat perlindungan apa yang mungkin ditawarkannya.

Pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah antibodi menurun saat bayi tumbuh, kata para peneliti.

Jumlah antibodi pada bayi bervariasi dan lebih tinggi di antara mereka yang ibunya terinfeksi lebih dekat ke waktu persalinan, para peneliti menambahkan.

Dokter di China telah melaporkan deteksi dan penurunan antibodi Covid-19 dari waktu ke waktu pada bayi yang lahir dari wanita dengan penyakit coronavirus, menurut sebuah artikel yang diterbitkan pada bulan Oktober di jurnal Emerging Infectious Diseases.