Nasional – Sebuah video merekam pemotor membawa kain jenazah yang sudah dibalut kain jarik ramai diperbincangkan. Peristiwa itu terjadi di Boyolali, Jawa Tengah.

Seperti apa kejadian sebenarnya? Pemotor adalah Sutejo (50). Kala itu, dia membawa jenazah ibunya Ginem Suharti (80).

Deddy Septri Nugroho, kerabat Sutejo, menjelaskan Ginem Suharti meninggal dunia di rumah anak pertamanya di Kecamatan Banyudono, Boyolali. Jenazah wanita yang sebelumnya tinggal di Kecamatan Simo, Boyolali itu kemudian dibawa pulang Sutejo ke kawasan Simo yang jaraknya sekitar 15 kilometerdari Banyudono. Jenazah ibunda dibawa Sutejo dengan sepeda motornya dan diletakkan di atas bronjong.

“Itu rencananya mau dimakamkan di pekarangan Desa Kedunglengkong, Simo,” katanya, Jumat (30/10).

Setelah sampai di TPU Simo, lanjut dia, keluarga melarang jenazah ibunya tersebut untuk dimakamkan. Dengan alasan, selain belum disucikan, jenazah juga belum dikafani.

“Kita keluarga melarang untuk langsung dimakamkan sebenarnya, tapi dia nekat. Setelah itu kita tetap melarang dan kita bujuk Sutejo agar jenazah ibu Suharti dimakamkan secara layak. Jenazah sudah kita makamkan secara layak,” jelasnya.

Peristiwa dibawanya jenazah Suharti oleh anaknya dengan sepeda motor juga menjadi pembicaraan di Desa Jambungan. Bahkan sempat muncul kabar jika jenazah Suharti tak dimakamkan di desa tersebut lantaran tidak mempunyai biaya.

Kepada wartawan, Kasi Pemerintahan Desa Jambungan, Banyudono, Andi, membantah jika jenazah Suharti tidak boleh dimakamkan di desa tersebut karena ada beban biaya. Ia menduga, jika langkah yang dipilih Sutejo membawa pulang ibunya ke Simo disebabkan kurangnya komunikasi dengan para tetangga.

“Saya berani menjamin, jenazah siapapun tetap bisa memakamkan di TPU Desa Jambungan,” tegas Andi.

Andi menilai, Sutejo sebagai orang yang mempunyai kepribadian tertutup. Pihaknya bahkan sanggup dan akan menyewakan ambulans jika hal tersebut dikomunikasikan.

“Kalau Pak Tejo mau memakamkan jenazah ibunya ke Simo, kami siap menyewakan ambulans. Tapi karena tidak ada komukasi sama sekali ya seperti itu kejadiannya,” katanya.

Andi mengaku pihaknya mencari berkas data kependudukan dari keluarga Sutejo. Diketahui, jika Sutejo bukan warga asli desanya. Sutejo merupakan warga baru yang menempati rumah beberapa tahun yang lalu usai membelinya.

Ditambahkan Andi, tindakan Sutejo membawa jasad ibunya diketahui setelah seorang anak kecil melaporkan kejadian tersebut.

“Yang tahu pertama malah anak kecil. Ia melihat, katanya Pak Tejo membawa ikatan jarik di atas beronjong,” ujar Andi.

Andi menjelaskan, Sutejo selama ini memang merawat ibunya yang sakit di kediamannya di Banyudono untuk dirawat.

“Ibunya itu warga Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, dirawat di rumahnya di sini beberapa hari,” katanya.

Namun lantaran sakit yang diderita, Ginem Suharti kemudian meninggal dunia. Atas inisiatif sendiri, Sutejo membawa jenazah ibunya dengan bronjong menggunakan sepeda motor Honda GL-100 ke Desa Kedunglengkong yang jaraknya sekitar 15 kilometer.

“Jadi tetangganya itu tidak ada yang tahu. Mungkin karena Pak Tejo ini orangnya tertutup dan minim berinteraksi dengan warga,” katanya.

Menurut Andi, setelah tiba di rumah ibunya Desa Kedunglengkong, Setejo mencoba memakamkan ibunya. Kondisi jenazah Ginem sendiri, lanjut Andi, masih mengenakan pakaian dan dibungkus dengan kain jarit. Sehingga belum sempat disucikan dan dikafani.

“Jenazahnya itu masih menggunakan pakaian dibungkus jarit dan belum disucikan. Warga di sana (Kedunglengkong) tahu pertama kali saat Pak Tejo meminjam cangkul,” jelasnya.

Warga, lanjut dia, kemudian menanyakan dan kemudian mengetahui jika Sutejo akan memakamkan jenazah ibunya di pekarangan rumah. Warga yang terkejut kemudian membujuk Sutejo agar terlebih dulu mensucikan jenazah ibunya dan tak memakamkannya di pekarangan.

“Setelah dibujuk dan dibilangi baik-baik akhirnya pak Tejo mau. Jenazah bu Ginem akhirnya dimandikan, dikafani dengan layak dan langsung dimakamkan di TPU desa sana,” paparnya.

Salah satu tetangga Sutejo, Eko (39), menyampaikan, keseharian Sutejo berprofesi sebagai petani dan berjualan tas. Ia mengerjakan semuanya hanya bersama istri, tanpa bantuan orang lain. Di rumah tersebut, selain istri Sutejo juga tinggal bersama kedua anaknya.

“Dia itu bertani, terus kadang-kadang bikin tas anyaman dari bambu. Itu dikerjakan sama istrinya sendiri. Nandur pari (bercocok tanam) juga dikerjakan sendiri sama istrinya sampai sehari,” terangnya lagi

“Jadi mulai dari menanam benih, memupuk sampai memanen tanaman padi tak pernah meminta bantuan orang lain,” imbuhnya.